![]() |
| Illustrasi |
Dulu, membuka media sosial rasanya seperti duduk di beranda rumah bersama teman-teman lama. Kita hadir di sana untuk saling menyapa dan bertukar cerita keseharian. Ingatkah masa-masa ketika linimasa kita hanya berisi foto makanan enak yang baru saja dicicipi, ulasan jujur tentang tempat wisata untuk akhir pekan, atau sekadar bocoran tempat belanja murah?
Pada masa itu, media sosial murni menjadi ruang tamu digital yang hangat. Informasi yang dibagikan adalah hal-hal ringan yang sungguh bermanfaat bagi kawan-kawan kita. Kita memposting untuk berbagi kebahagiaan dan kemudahan, bukan untuk memicu perdebatan.
Namun perlahan, pemandangan itu berubah drastis. Ruang tamu yang hangat itu kini menjelma menjadi alun-alun yang bising dan penuh sesak.
Fungsi media sosial telah bergeser terlalu jauh. Dulu, jika kita ingin mengetahui peristiwa penting, kita akan membaca koran, menonton televisi, atau membuka situs berita resmi—platform yang memang didedikasikan untuk menyampaikan berita. Kini, fungsi itu telah direbut paksa oleh media sosial. Siapa saja, di mana saja, dengan sebuah ponsel di tangan, bisa merasa menjadi "wartawan" yang melaporkan kejadian pertama kali.
Celakanya, kecepatan seringkali membunuh kebenaran. Orang-orang dengan mudah melempar sebuah informasi ke ruang publik tanpa peduli apakah itu kejadian nyata, sekadar asumsi mentah, atau bahkan sekadar opini pribadi yang dibungkus seolah-olah sebuah fakta.
" Mereka mengetik tanpa dibekali etika jurnalistik; tanpa proses verifikasi, tanpa mencari keseimbangan sudut pandang, dan tanpa memikirkan dampak hukum serta moral dari apa yang mereka tulis. "
Imbas terbesarnya menghantam keras masyarakat awam. Di tengah tsunami informasi ini, batas antara kebenaran dan kebohongan menjadi sangat kabur. Banyak orang yang belum memiliki literasi digital yang cukup akhirnya menelan mentah-mentah apa pun yang lewat di layar ponsel mereka. Sesuatu yang viral otomatis dianggap sebagai sebuah kebenaran mutlak.
Akibatnya sangat fatal. Asumsi liar dengan mudah bermutasi menjadi fitnah yang kejam. Reputasi seseorang bisa hancur dalam semalam hanya karena sebuah unggahan tanpa bukti yang disebarkan ribuan kali oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Penghakiman massal terjadi setiap hari, didasari oleh amarah, bukan fakta.
Kita mungkin kini lebih cepat terhubung dengan kejadian di ujung dunia, tapi sayangnya, kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga: kejernihan berpikir dan kemampuan untuk mencerna mana informasi yang benar dan mana yang sekadar ilusi. Media sosial tidak lagi menyatukan, ia kini lebih sering mengelabui.

0 Komentar