Breaking News

Korban Siklon Senyar Tembus 1.000 Jiwa, Presiden Prabowo Perintahkan Audit Total Perusahaan Perusak Hutan



SUMATRA – Bencana hidrometeorologi dahsyat yang dipicu oleh Siklon Tropis Senyar kini tercatat sebagai salah satu tragedi lingkungan paling mematikan di Indonesia. Hingga Jumat (19/12/2025), data kumulatif dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan jumlah korban jiwa telah melampaui angka 1.000 orang di seluruh daratan Sumatra.

Aceh menjadi wilayah dengan dampak paling parah, disusul oleh Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Curah hujan ekstrem yang mencapai titik tertinggi dalam satu dekade terakhir telah meruntuhkan lereng-lereng perbukitan dan menghanyutkan ratusan desa di sepanjang aliran sungai.

"Hulu Rusak, Rakyat Jadi Korban"

Presiden Prabowo Subianto, yang turun langsung meninjau lokasi terdampak di Tapanuli Tengah dan Agam sejak awal Desember, menyatakan kegeramannya. Saat melihat banyaknya material kayu gelondongan yang terbawa banjir bandang, Presiden langsung menginstruksikan langkah hukum yang agresif.

"Ini bukan sekadar fenomena alam. Ada campur tangan manusia yang merusak keseimbangan. Saya perintahkan audit total terhadap semua perusahaan yang beroperasi di hulu. Jika terbukti melanggar dan menyebabkan bencana ini, tidak ada kata maaf: cabut izinnya dan proses hukum!" tegas Presiden Prabowo.

Sebaran Dampak dan Upaya Evakuasi

Berdasarkan laporan terkini, berikut adalah rincian situasi di lapangan:

  • Aceh: 456 korban jiwa. Jalur transportasi darat yang menghubungkan Aceh dan Sumut masih terputus di beberapa titik akibat amblasnya badan jalan.

  • Sumatra Utara: 366 korban jiwa. Fokus pencarian saat ini berada di wilayah pesisir barat yang tertimbun material longsoran dari pegunungan Bukit Barisan.

  • Sumatra Barat: 246 korban jiwa. Upaya normalisasi jalur distribusi pangan menjadi prioritas karena beberapa jembatan utama hanyut diterjang arus.

Siklon Senyar: Anomali Iklim yang Mematikan

Pakar iklim menyebutkan bahwa pembentukan Siklon Tropis Senyar di dekat khatulistiwa merupakan anomali yang sangat berbahaya. Kecepatan angin dan densitas awan hujan yang dibawa siklon ini bertemu dengan kondisi tanah yang sudah jenuh air (saturated) akibat penggundulan hutan, menciptakan kombinasi maut yang menghancurkan infrastruktur hanya dalam hitungan jam.

Pemerintah melalui Kementerian Sosial dan Kementerian Kesehatan telah mendirikan lebih dari 200 posko pengungsian, namun tantangan utama saat ini adalah ancaman penyakit pascabencana dan ketersediaan air bersih.

0 Komentar

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close